“kau datang saat aku di miliki oleh dirinya”
Hal itu .. aku tak tahu harus mengatakan apa. Ingin sedih, tapi rasanya kehadiranmu sangat berarti buatku. Ingin bahagia, tapi rasanya aku agak canggung karena aku dimiliki oleh dirinya. Saat ku terluka oleh dirinya, kau selalu datang menemaniku, menghapus tangisku, menenangkan diriku. Walaupun kau dan aku tahu, kita tak terikat oleh status apapun. Kita hanya sebatas, “teman” . Dia yang sering membuatku menangis, selalu membuatku lelah, selalu membuatku merintih karena perlakuannya, yang selalu aku sayangi. Ingin rasanya pergi menjauh dan tidak akan lagi merasakan sakit ini, tapi kenapa, aku terus terpuruk dengan cinta yang ada dihatiku, yang tak bisa ku hapus dengan begitu mudahnya. Aku terus mencintainya. Aku memang mencintainya, tapi itu tak ada arti buatnya, kan? Toh dia juga menganggapku sebagai bonekanya. Dipermainkan hampir setiap saat. Tapi balasannya dariku? Aku terus saja menyayanginya, dan mungkin itu sepenuh hati. Ada kamu.... aku sangat senang, bahagia. Kau membuatku tertawa saat aku menangis, menyemangatiku saat lelah, membuatku terus bersabar saat ku merintih karena dirinya. Ingin rasanya mengucapkan “Terima kasih” yang sebanyak-banyaknya padamu yang mungkin tak pernah letih mengajariku cara untuk bersabar menghadapi kehidupan. Tapi? Aku hanyalah temanmu, tak lebih dari itu. Kita tak mungkin terlalu bersatu layaknya orang yang mempunyai status lebih. Kita tidak mungkin menjalin hubungan layaknya aku dan dia. Aku menyayangimu, sebagai teman. Jangan meminta lebih karena aku tak bisa memberikannya. Itu hanya ku berikan untuknya, seseorang disana yang ku anggap lebih dari teman. Aku hanya ingin mengatakan banyak banyak terima kasih, karena kau yang banyak mengajariku, menjagaku, meminjamkan sedikit bahumu untukku saatku menangis.
“Aku menyayangimu, sebagai kawanku. Jangan meminta lebih karena kau datang di saat yang tidak terlalu tepat, saat aku dimiliki olehnya”
No comments:
Post a Comment